Jendela SMAPA / Informasi Penelitian SMA N 1 Pamotan

Mengenal Cagar Budaya dan Para Pelestari Cagar Budaya di Lasem


Penulis: Ninik Purwati*



Cagar budaya adalah daerah yang kelestarian hidup masyarakat dan peri kehidupannya dilindungi oleh undang-undang dari bahaya kepunahan.[1] Menurut UU no. 11 tahun 2010, cagar budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya, dan Kawasan Cagar Budaya di darat dan/atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan atau kebudayaan melalui proses penetapan.

Pelestarian benda cagar budaya merupakan hal yang penting berdasarkan sifat-sifat yang dimiliki oleh benda cagar budaya dan sesuai dengan amanat dari Undang-Undang No. 5 Tahun 1992 yang menyebutkan bahwa benda cagar budaya merupakan kekayaan budaya bangsa yang penting artinya bagi pemahaman dan pengembangan sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan, sehingga perlu dilindungi dan dilestarikan demi pemupukan kesadaran jatidiri bangsa dan kepentingan nasional.

Beberapa Tokoh yang aktif dalam pelestarian Cagar Budaya di Lasem di antaranya:

Soebagyo pemilik/pengelola bangunan Lawang Ombo di desa Soditan dan Omah Londo di desa Gedungmulyo.

Rumah-rumah kuno berarsitektur Tiongkok yang sebelumnya disebut terancam punah karena tak terawat, kini mulai dijamah. Beberapa rumah telah disolek. Ada yang mulai diakrabi wisatawan. Di antaranya, Omah Londo. Bangunan rumah berluasan 1.700 meter persegi berdiri di tepi Jalan Lasem-Tuban Desa Gedongmulyo. Ia membenarkan, ancaman kepunahan rumah kuno Lasem yang berlanggam China, mulai tertekan. Namun ancaman itu tidak sepenuhnya lepas karena banyak godaan. Selain Omah Londo, Subagyo juga memiliki bangunan kuno bekas gudang candu di Desa Soditan. Bangunan rumah berarsitektur Tiongkok ini dinamai Lawang Ombo. Di dalamnya tersimpan bukti-bukti perdagangan candu dan kejayaan pelabuhan internasional di Sungai Lasem. Bangunan dikelilingi tembok di lahan seluas 5.500 meter persegi.

KH. Zaim Ahmad Ma’shoem pemilik /pengelola bangunan rumah tinggal (Ponpes) Kauman desa Karangturi dan rumah tinggal desa Soditan.

Sebagai kota kecil di pesisir ternyata Lasem memiliki sejarah panjang dalam menjaga dan mengelola keragaman budaya dan etnis. Di kota yang berjaya dalam perdagangan ini, etnis Tionghoa, santri keturunan Arab, dan warga setempat berbaur serta berjuang bersama melawan anti keragaman. Hal ini terlihat jelas dengan lahirnya Pondok Pesantren Kauman pada tanggal 21 November 2003M bertepatan dengan 27 Romadhan 1424 H, atau yang sering dikenal oleh kalangan masyarakat Pondok Pecinan, nama yang unik sekaligus langka dibanding nama-nama Pondok Pesantren pada umumnya. Nama PP Kauman diambil karena merupakan satu-satunya pesantren yang ada di kawasan Kauman di tengah-tengah pemukiman warga Tionghoa, Desa Karangturi Kecamatan Lasem Kabupaten Rembang. Hal yang sama sebagaimana yang sering dilakukan oleh para Kyai terdahulu dalam memberikan nama pada pesantren, dengan menisbatkan pada daerah tinggalnya.

Ir. Rudi Hartono pemilik / pengelola bangunan rumah Tiongkok Kecil Heritage desa Karangturi.

Salah satu bangunan termegah di Lasem adalah rumah bergaya Hindia—Indische Empire—dengan dua pilar berandanya nan anggun. Rumah yang berlokasi di Gang Karangturi 4 itu dilestarikan oleh pengusaha toko elektronik dan aneka perabot di pecinan itu. Namanya, Rudy Hartono, 45 tahun. Dia menamai rumah cantiknya dengan sebutan rumah Tiongkok Kecil Heritage. Rudy menyatakan bahwa rumah Tiongkok Kecil Heritage dapat dikunjungi oleh siapa saja. Dia pun mengizinkan rumah kunonya digunakan sebagai tempat Festival Lasem dan Laseman yang digelar tahun lalu. “Semua ini untuk Lasem,” ujarnya. “Saya berusaha menyelamatkan apa yang bisa saya selamatkan,” ujarnya sambil memandang rumah itu dengan tatapan tajam. “Semoga teman-teman lainnya pun demikian.”

Sigit Witjaksono pemilik / pengelola bangunan rumah tinggal Batik Tulis desa Babagan.

Sekar Kencana merupakan rumah batik milik Sigit Witjaksono yang juga tokoh Tionghoa. Di rumah ini, Sigit memiliki sekitar 20 pegawai. Mulai pembuat pola, membatik, sampai tenaga pendukung hingga kain batik siap jual. "Saya sendiri yang membuat gambar, selanjutnya pegawai yang membuat pola di kain," ungkap Sigit. Sigit menyebut, ada tiga motif batik khas Lasem. Yakni, Latohan, Sekar Jagad, dan Watu Pecah atau Kricak.

Djunaidi Rusli pengelola rumah tinggal Yok Tjau Soe desa Babagan.

Djunaidi mengaku sangat senang atas penghargaan yang diberikan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Jateng. Rumah dengan arsitek tiongkok kuno di RT: 2 RW: 1 dikunjungi banyak sekali orang mulai wisatawan sampai mahasiswa. “Saya memang sering kedatangan tamu dari wisatawan sampai mahasiswa. Dengan adanya penghargaan ini saya senang sekali dan tambah semangat. Sampai saat ini tidak ada pikiran untuk menjual karena itu rumah warisan, lebih baik menjadi cagar budaya ada yang membantu untuk merawatnya,”pungkasnya.

Sumber Tulisan

Ø  Pelestarian Cagar Budaya Dahulu dan Sekarang. Dalam http://jelajahsitus.blogspot.co.id/2009/09/pelestarian-benda-cagar-budaya-dahulu.html
Ø  Cagar Budaya. Dalam https://id.wikipedia.org/wiki/Cagar_budaya. Diakses pada tanggal 28 Maret 2018.       
Ø  5 Pelestari Cagar Budaya di Lasem dapat penghargaan. Dalam http://www.nurfmrembang.com/berita/lima-pelestari-cagar-budaya-lasem-diberi-kompensasi-dan-penghargaan. Diakses pada tanggal 28 Maret 2018.
Ø  Geliat Pariwisata Tekan Ancaman Kepunahan Rumah Kuno Lasem. Dalam http://mataairradio.com/berita-top/geliat-pariwisata-tekan-ancaman-kepunahan-rumah-kuno-lasem. Diakses pada tanggal 28 Maret 2018.
Ø  Pondok Pesantren Kauman di “Kota Cina Kecil” Lasem. Dalam https://suarapesantren.net/2016/04/25/pondok-pesantren-kauman-di-kota-cina-kecil-lasem/. Diakses pada tanggal 28 Maret 2018.
Ø  Rumah Tembok Merah, Tengara Pecinan Karangturi Lasem. Dalam http://nationalgeographic.co.id/berita/2016/02/rumah-tembok-merah-tengara-pecinan-karangturi-lasem. Diakses pada tanggal 28 Maret 2018.
Ø  Mengenal Dekat Batik Tulis Lasem di desa Babagan. Dalam http://lifestyle.kontan.co.id/news/mengenal-dekat-batik-lasem-di-desa-babagan. Diakses pada tanggal 28 Maret 2018.
Ø  Lima Pelestari Cagar Budaya Mendapat Penghargaan. Dalam http://rri.co.id/yogyakarta/post/berita/336304/budaya/lima_pelestari_cagar_budaya_mendapat_penghargaan.html. Diakses pada tanggal 28 Maret 2018.


* Siswa SMA Negeri 1 Pamotan 

Kunjungan Lapangan

About Kunjungan Lapangan

Author Description here.. Nulla sagittis convallis. Curabitur consequat. Quisque metus enim, venenatis fermentum, mollis in, porta et, nibh. Duis vulputate elit in elit. Mauris dictum libero id justo. Mauris dictum libero id justo.

Previous
Next Post »

© 2013 Karya Tulis. WP Theme-junkie Converted by Bloggertheme9.
Proudly Powered by Blogger.