Penulis: Arnetta Susma Widiyanti & Nugrahaeni Kresna Murti*
Berwirausaha
adalah sebuah kegiatan yang tidak lepas dari resiko. Begitupun dengan
berwirausaha sebuah produk batik. Muizza adalah seorang pengrajin batik yang
berani mencoba sebuah usaha dengan resiko yang begitu besar. Ditambah lagi
dengan awal dia mencoba sebuah usaha tanpa berbekal keterampilan apapun.
Banyak
halangan yang Muizza alami selama menjalankan usaha batik pada awalnya. Lima
tahun Muizza memulai sebuah usaha tersebut, namun mulai 2 tahun belakangan ini
usaha tersebut mulai berproduksi. Kesulitan awal yang dialami yaitu kurangnya
sumber daya manusia dan modal. Namun Muizza tidak lantas menyerah. Ia
mendatangkan beberapa pelatih dari Pekalongan untuk membina para warga yang
akan bekerja dalam usahanya tersebut. Sebuah usaha batik tidak ada yang gagal
dan salah, itulah yang Muizza jadikan pedoman untuk tetap menjalankan usahanya
walaupun banyak kegagalan yang telah dialami, dari mulai salah pewarnaan dalam
pembuatan batik hingga proses pemasaran barang jadi.
Salah satu
kegagalan dalam proses pewarnaan yaitu karena takaran obat yang tidak pas
hingga salah dalam pembelian warna dasar pewarna batik. Pernah suatu ketika
Muizza mendapat pesanan dari Bandung, namun beliau harus menanggung kerugian
yang sangat besar, akibat dari salah dalam proses pewarnaan. Tidak hanya satu
kain batik yang telah rusak, namun sudah mencapai 50 kain yang gagal, akibat
saat beliau membeli bahan pewarna salah dalam pembeliannya. Akhirnya, ia
mengulang 50 kain dengan pewarna yang sesuai. Namun beliau menyiasati dari
kerugian 50 kain yang gagal dengan mengakali agar kain batik dapat bernilai
ekonomis. Beliau memberikannya kepada para pegawai balai desa dan pegawai yang
bekerja dengannya.
Itulah
sebabnya tidak ada sesuatu yang gagal, yang ada hanya kemauan yang lemah.
Karena usaha yang sukses berawal dari sebuah kemauan yang keras.
* Penulis adalah siswa SMA N 1 Pamotan Kelas XI MIPA 2
